Sunday, September 9, 2012

Langit

dia dongak amati dada langit yang suram
awan berarak kelihatan senada menyusun atur
hasilkan lukisan mendung memayungi alam
dentuman lintar acapkali melekatkan getar di dada

titisan jernih mula jatuh membasahi pipi
kian lebat melencunkan segenap tubuh
gigil tatkala dingin rakus menggigit
tanpa berteduh kekal tekad dia di sudut itu

matanya pamer rasa tanpa perucapan kata
sinar semalam samar diselimuti awan hitam
tika diri asyik menyulam kesuburan laman
hadir bah hanyutkan sejuta harap

dia yang ku lihat sedari tadi
asyik mengira tiap titisan hujan
menanti kembali sapaan hangat mentari
agar keringkan luka yang mengalir pekat

dan dia senyum bugar dalam kemelut gusar
benteng sabar singkirkan tangisan dari berteman
walau hampir saja terjerlus dalam kabut dunia
dia kekal tenang menggamit langit biru

ya dia itu insan yang ku kenal
tak perlu di sisi dia tegak berdiri
genggam pena di atas hamparan kanvas
lakar saja langit seperti yang dia mahu